Jumat, 08 Februari 2013

Perayaan Isra' Mi'raj


Perayaan Isra Mi’raj merupakan perkara yang diada-adakan, yang orang-orang jahil menisbatkannya kepada syariat, dan mereka menjadikan kebiasaan itu dilakukan setiap tahun, dan perayaan itu diadakan pada malam ke-27 dari bulan Rajab. Mereka berkumpul kemudian membaca kisah Mi’raj yang dinisbatkan kepada ibnu ‘Abbas, yang semua penisbatan tersebut batil dan sesat. Dan tidak ada yang shahih dari kisah tersebut kecuali sedikit saja. Begitu juga kisah ibnu as-Sulthan, seorang lelaki yang tidak pernah shalat kecuali dibulan Rajab, maka ketika dia wafat tampaklah tanda-tanda keshalihannya, maka Rasulullah ditanya tentangnya, maka beliau bersabda,”Sesungguhnya itu karena dia bersungguh-sungguh dan berdoa dibulan Rajab.” Dan kisah ini adalah dusta, haram untuk membacanya dan meriwayatkannya kecuali untuk menjelaskan kedustaannya. السنن والمبتدعات ص(147) ، والإبداع ص (272)
                        Dan perayaan ini yang dilakukan pada hari ke-27 dari bulan Rajab, dan orang-orang yang mengira bahwa malam tersebut adalah malam Isra Mi’raj pada dasarnya telah salah, karena tidak kuat pendapat yang mengatakan bahwa Rasulullah di-Isra-kan pada malam tersebut. Maka sungguh para ulama telah berselisih mengenai malam dimana Rasulullah di-Isra Mi’raj-kan.
Ibnu Hajar al-Asqalani berkata,”Dan sungguh telah terjadi perselisihan mengenai waktu Mi’raj, ada yang mngatakan bahwa kejadian itu sebelum Nabi Muhammad diangkat menjadi rasul, dan pendapat ini lemah.”
Dan banyak ulama yang berpendapat bahwa kejadian tersebut terjadi setelah Beliau diangkat menjadi Rasul, kemudian mereka berselisih kembali : ada yang mengatakan setahun sebelum hijrah, ini adalah perkataan ibnu Sa’d dan selainnya, dan imam an-Nawawi sependapat dengannya. Dan ibnu Hazm menyampaikan bahwa telah dinukil ijma bahwa kejadian itu terjadi pada bulan Rabiul awal, dan pendapat ini banyak  disebutkan, maka sesungguhnya dalam hal ini telah terjadi perselisihan yang banyak, lebih dari sepuluh pendapat mengenainya sebagaimana yang disebutkan ibnu Jauzi. فتح الباري (7/203)
               Telah ijma para Salafush Shalih bahwasanya menjadikan suatu musim (sebagai perayaan) selain musim-musim yang disyariatkan merupakan bagian dari bidah yang diada-adakan yang Rasulullah melarang hal tersebut.
               Maka perayaan malam Isra Miraj merupakan bidah yang diada-adakan yang belum pernah dilakukan para Sahabat, Tabiin, dan orang-orang yang mengikuti mereka dari para Salafush Shalih, padahal mereka adalah manusia yang paling semangat melakukan kebaikan dan amal shalih.
FATWA-FATWA ULAMA MENGENAI ISRA MI’RAJ:
1.       Imam ibnu Rajab berkata,Telah diriwayatkan bahwa telah terjadi kejadian-kejadian besar dibulan Rajab, dan tidak ada sedikitpun yang shahih tentang hal tersebut, maka diriwayatkan juga bahwa Rasulullah dilahirkan pada awal malam pada bulan Rajab, dan diangkat menjadi rasul pada hari ke-27 dari bulan Rajab adapula yang mengatakan hari ke-25, maka tidak ada sedikitpun yang shahih tentang hal tersebut. لطائف المعارف ص(168)
2.       Telah berkata abu Syamah,Telah menyebutkan sebagian tukang cerita bahwa Isra terjadi pada bulan Rajab, dan hal tersebut menurut ahli tadil dan jarh merupakan pendapat yang dusta. الباعث ص (171)
3.       Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah,Dan adapun menjadikan sebuah musim (sebagai perayaan) selain musim-musim yang disyariatkan seperti sebagian malam-malam dibulan Rabiul awal yang dikatakan bahwa itu adalah malam mauled, atau sebagian malam-malam dibulan Rajab, atau hari ke-18 bulan Dzulhijjah, atau jumat pertama dibulan Rajab, atau hari ke-8 dibulan Syawal yang dinamakan oleh orang-orang jahil sebagai Iedul Abrar , maka sesungguhnya hal tersebut adalah bidah yang tidak pernah dianjurkan para salaf dan merekapun tidak melakukannya,.. مجموع الفتاوى (25/298)
Dikutip dari risalah al-Bida’ al-Hauliyah yang ditulis Syaikh Abdullah at-Tuwaijiry (maktabah syamilah)

MAULID NABI Shallallahu 'alaihi wa Salam


Telah berlalu zaman-zaman yang utama dari generasi pertama, kedua, dan ketiga dari umat ini, dan tidak kami temukan kitab-kitab sejarah bahwasanya ada seorangpun dari Sahabat atau Tabi’in atau Tabiut tabi’in dan orang-orang yang mengikuti langkah mereka melakukan perayaan Maulid Nabi,padahal mereka sangat besar cintanya kepada Rasulullah, dan manusia yang paling mengetahui tentang Sunnah, dan paling bersemangat dalam mengikuti syari’at Rasulullah.
Peringatan Maulid Nabi adalah bidah yang munkar. Kelompok yang pertama kali mengadakannya adalah Bani ‘Ubaid al-Qaddah yang menamakan diri mereka dengan kelompok Fatimiyyah pada abad ke-4 Hijriyah. Mereka menisbatkan diri kepada putra ‘Ali bin abi thalib. Padahal mereka pencetus aliran kebatinan. Kakek moyang mereka adalah Ibnu Dishan yang dikenal dengan nama al-Qaddah,dan dia adalah bekas budak milik Ja’far bin Muhammad as-Shadiq,dan dia berasal dari al-Ahwaz, salah seorang pendiri aliran Batiniyah di Iraq. Kemudian dia pergi ke Maghrib,kemudian menisbatkan dirinya didaerah itu kepada ‘Aqil bin abi thalib dan dia mengira bahwa dia merupakan keturunannya,maka masuklah kedalam seruannya orang-orang yang berlebihan dari kaum Rafidhah, dia menyerukan bahwa dirinya merupakan anak dari Muhammad bin isma’il bin ja’far bin ja’far as-Shadiq,maka mereka pun mempercayainya, meskipun sebenarnya Muhammad bin isma’il bin ja’far bin ja’far as-Shadiq tidak memiliki keturunan. Dan salah satu orang yang mengikutinya adalah Hamdan al-Qaramith yang dinisbatkan kepadanya al-Qaramithah. Maka berlalulah waktu, maka muncullah seorang tokoh yang bernama Sa’id bin al-Husein bin Ahmad bin ‘Abdillah bin Maimun bin Dishan al-Qaddah, maka diapun mengganti namanya dan nasabnya kemudian mengatakan kepada pengikutnya,”Saya adalah ‘Ubaidillah bin Hasan bin Muhammad bin Isma’il bin Ja’far as-Shadiq.” Maka mucullah fitnah di Maghrib. Berkata Ibnu Khalikan,”Para Ahli Ilmu yang mengetahui tentang nasab, mengingkari perkataannya mengenai nasabnya.”
Dan orang yang pertama menciptakan perayaan ini adalah al-Mu’iz Ma’ad bin isma’il yang masuk ke Mesir pada tahun 362 H di bulan Ramadhan dan itu adalah awal pemerintahanya di Mesir. Dan yang terakhir memerintah adalah al-‘Adhid,dan adz-Dzahabi menyebutkan bahwasanya pemerintahan al-‘Adhid melemah ketika Salahuddin al-Ayyub masuk ke Mesir dan mencopot kekuasaannya dan berkerja sama kepada Bani al-‘Abbas untuk menghancurkan Bani ‘Ubaid dan melenyapkan kayakinan Syi’ah Rafidhah.(Siyar ‘alamin nubala,hal.211-212,maktabah samilah)
Para ulama umat, para pemimpin, dan para pembesarnya bersaksi bahwa mereka adalah orang-orang yang munafiq zindiq, yang menampakan Islam dan menyembunyikan kekafiran. Bila ada orang yang bersaksi  bahwa mereka orang-orang beriman,berarti dia bersaksi atas sesuatu yang tidak diketahuinya.karena tidak ada sesuatu pun yang menunjukan keimanan mereka,sebaliknya banyak hal yang menunjukan atas kemunafikan dan kezindikan mereka.
Diterjemahkan bebas dari risalah al-Bida’ al-Hauliyah yang ditulis Syaikh Abdullah at-Tuwaijiry (maktabah syamilah)
Beberapa alasan dilarangnya mauled Nabi:
1.       Peringatan maulid nabi merupakan perkara baru yang diada-adakan didalam Islam yang tidak ada satupun dalil yang mensyariatkan perayaan tersebut. Rasulullah bersabda,
 مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ
Barang siapa yang mengadakan perkara-perkara yang baru didalam agama kami ini maka dia (amalan tersebut)  tertolak.HR.Bukhari 2697,Muslim 4589,abu Dawud 4608,dll (maktabah syamilah)
Apabila setiap amalan yang tidak dicontohkan rasulullah dan para sahabat akan tertolak,maka apakah manfaatnya??
Bukankah masih banyak sunnah-sunnah Rasulullah yang telah kita ketahui namun belum kita amalkan bahkan masih banyak pula yang belum kita ketahui dari sunnah-sunnah beliau.

Beliau juga bersabda,
و شر الأمور محدثاتها و كل محدثة بدعة و كل بدعة ضلالة و كل ضلالة في النار
Dan seburuk-buruk prekara adala yang diada-adakan dan setiap yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat dan setiap kesesatan di neraka. Shahih ibnu Khuzimah 1785 (maktabah syamilah)
2.       Khulaufur Rasydin dan para sahabat tidak ada yang memerintahkannya maupun mengamalkannya, padahal mereka adalah sebaik-baik umat yang Allah pilih untuk menemani nabiNya dalam berdakwah,serta paling lurus pemahamannya dalam memahami al-Qur’an dan Sunnah,serta orang-orang yang paling mencintai nabi.
Rasululah bersabda,
فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
Wajib atas kalian berpegang kepada Sunnahku dan Sunnah para Khulafaur Rasyidin yang diberi hidayah, berpegan teguhlah dengannya dan gigitlah dia dengan gigi geraham. Dan waspadalah kalian kepada perkara-perkara baru yang diada-adakan karena setiap yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.HR. abu Dawud 4609, Tirmidzy 2676,Ibnu Majah 42,dll (maktabah syamilah)


3.       Peringatan meulid adalah kebiasaan orang-orang sesat dan menyimpang dari kebenaran yang dilakukan oleh orang –orang Syiah Rhafidhah keturunan dari generasi Fatimiyyah ‘Ubaidiyyah yang ulama dan para ahli sejarah menyebutkan bahwa mereka berasal dari kalangan Yahudi, adapula yang mengatakan Nashrani, adapula yang mengatakan Majusi, bahkan ada yang mengataan Atheis.
Maka pantaskah bagi seorang Muslim yang berakal mengikuti Rhafidhah dan kebiasaan-kebiasaan mereka??

4.       Merayakan perayaan kelahiran Nabi tidaklah membuktikan kecintaan, akan tetapi kecintaan itu hanya bisa dibuktikan dengan mengikuti  dan mengamalkan sunnah-sunnah beliau.Allah Ta’ala berfirman,
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ   
31. Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Ibn Katsir berkata,”Ayat yang mulia ini adalah pemutus hokum bagi siapa saja yang mengaku mencintai Allah namun tidak berada diatas jalan Nabi Muhammad maka sesungguhgnya dia telah berdusta dalam kesaksiannya dalam perkara tersebut,sehingga mengkuti syariat Nabi Muhammad dan agama yang dibawanya dalam setiap perkataan, perbuatan, dan keadaannya .Tafsir ibnu katsir (maktabah syamilah)

5.       Mengikuti peringatan mauled menyerupai hari raya orang-orang yahudi dan nashrani, padahal Rasulullah bersabda,
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum,maka dia termasuk golongan mereka.HR.abu dawud 4033 dan al-Bazzar 2966 (maktabah syamilah)
عن أبي سعيد الخدري قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لتتبعن سنن من قبلكم شبرا بشبر وذراعا بذراع حتى لو دخلوا جحر ضب لتبعتموهم قلنا يا رسول الله آليهود والنصارى قال فمن . أخرجه مسلم
FATWA-FATWA ULAMA MENGENAI MAULID NABI:
1.       Syaikh Tajuddin al-Fakihani berkata,”Aku tidak mengetahui darimana asalnya mauled ini didalam al-Qur’an dan Sunnah,dan tidak pernah dinukil satupun dari para Ulama umat ini, yang mereka merupakan Qudwah didalam agama ini dan berpegang kepada atsar-atsar terdahulu,bahkan dia adalah bid’ah yang dibuat oleh para pengekor hawa nafsu.
المورد في عمل المولد (maktabah syamilah)

2.      Syaikul Islam ibnu Tamiyyah berkata,”adapun menjadikan musim tertentu selain musim-musim yang disyariatkan seperti sebagian malam di bulan rabiul awal yang dikatakan bahwa itu adalah malam mauled atau sebagian malam-malam rajab atau hari ke 18 dzulhijjah atau jum’at pertama dari bula rajab atau hari ke 8 dari bulan syawal yang dinamakan ‘iedul abror oleh orang-orang jahil sesungguhnya itu adalah bid’ah yang tidak dianjurkan para salaf tidak pula mereka mengamalkannya.
مجموع الفتاوى (maktabah syamilah)

3.      Syaikh Abdullah bin abdul’aziz bin bazz berkata,”Tidak diperbolehkan melaksanakan peringatan mauled nabidan peringatan hari kelahiran  selain beliau karena hal itu adalah bid’ah dalam agama. Sebab Rasul tidak pernah melakukannya tidak juga para Khulafaur Rasyidin dan para sahabat  dan tidak juga orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik pada generasi-generasi yang diutamakan. Padahal mereka adalah manusia yang paling mengetahui Sunnah,paling mencintai Rasulullah,dan paling mengikuti syariat daripada orang-orang setelah mereka..
Hukmul ihtifal bil mauled an nabawi (As-Sunnah edisi 12 Th.XII)

4.      Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin berkata,”Pertama: bahwa malam kelahiran Rasul tidak diketahui secara pasti, bahkan sebagian ahli sejarah menetapkan bahwa malam kelahiran Rasul adalah malam ke 9 Rabiul awwal bukan malam ke 12. Dengan demikian menjadiakannya malam ke 12  tidak memiliki dasar dari sudut pandang sejarah.
Kedua: dari sudut pandang syariat maka peringatan ini tidak memiliki dasar. Karena jika ia termasuk syariat Allah pasti Nabi telah melakukannya atau menyampaikan kepada umatnya. Seandainya beliau menyampikannya maka hal itu pasti terjaga karena Allah berfirman,”Sesungguhnya kamilah yang menurunkan Al-Qur’an dan pasti kami pula yang menjaganya.’(Qs.Al-Hijr:9).
Karena tidak ada satupun yang terjadi dari hal itu maka dapat diketahuilah bahwa Maulid Nabi tidak termasuk agama Allah. Jika tidak termasuk agama Allah maka kita tidak boleh beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah dengannya. Apabila Allah telah meletakan jalan tertentu agar dapat sampai kepadaNya yaitu apa yang telah dibawa Rasul,maka bagaimana bisa kita selaku hamba Allah diperbolehkan membuat jalan sendiri yang mengantarkan kepada Allah? Ini merupakan kejahatan kepada hak Allah, yaitu mensyariatkan dalam agama Allah sesuatu yang bukan bagian darinya.
Majmu’Fatawa Syaikh ‘Utsaimin (II/298)

5.      Syaikh Shalih bin Fauzan berkata,”melaksanakan mauled Nabi adalah bid’ah. Idak pernah dinukir dari Nabi,tidak dari Khulafaur Rasyidin dan tidak juga dari generasi yang diutamakan bahwa mereka melaksanakan peringatan tersebut. Padahal mereka adalah orang yang paling cinta kepada Rasulullah da paling semangat melakukan kebaikan. Mereka tidak melakukan suatu bentuk ketaatan pun kecuali disyariatkan Allah dan RasuNya sebagai pengamalan dari firman Allah,”Dan apa yang diberilkan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarang maka tinggalkanlah.”(Qs.Al-Hasyr:7)
Maka ketika mereka tidak melakukan peringatan mauled ini, dapat diketahuilah bahwa perbuatan itu adalah bid’ah.
Al-Muntaqo min Fatawa Syaikh Shalih Fauzan (II/185-186)

Sabtu, 30 April 2011

kEUTAMAAN SAHABAT

keutamaan Sahabat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam.
Sungguh tidak diragukan lagi akan keutamaan Sahabat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam Semoga Allah meridhoi mereka semua, didalam banyak Ayat Al-Qur’an dan hadist-hadist yang shahih telah dijelaskan tentang keutamaan mereka. Oleh karena itu, Imam Malik pernah berkata,”Jika ingin Islam kembali kepada kejayaan maka kembalilah kepada generasi yang awal”.
Itu karena memang merekalah manusia terbaik dari umat ini, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:
بِاللَّهِ وَتُؤْمِنُونَ الْمُنْكَرِ عَنِ وَتَنْهَوْنَ بِالْمَعْرُوفِ تَأْمُرُونَ لِلنَّاسِ أُخْرِجَتْ أُمَّةٍ خَيْرَ كُنْتُمْ
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.(Ali-Imran:110)
Secara khusus ayat ini diturunkan oleh Allah Ta’ala untuk memuji para Sahabat karena kebaikan dan keutamaan mereka dari umat-umat yang lainnya. Begitu juga Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
”Sebaik-baik manusia adalah orang-orang yang dizamanku (Sahabat), kemudian sesudahnya (Tabi’in), kemudian sesudahnya (Tabi’ut Tabi’in).
Bahkan sifat dan ciri mereka telah jauh-jauh hari diceritakan Allah Ta’ala sebelum mereka lahir ke dunia didalam Taurat dan Injil, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:
Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.(Al-Fath:29)
Oleh karena itu, jelaslah sudah keutamaan-keutamaan mereka yang telah dijelaskan oleh Allah Dan RasulNya sehingga wajib bagi kita untuk mengikuti jejak dan manhaj mereka
agar dapat selamat didunia dan akhirat. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:
عَنْهُ وَرَضُوا عَنْهُمْ اللَّهُ رَضِيَ بِإِحْسَانٍ اتَّبَعُوهُمْ وَالَّذِينَ وَالأنْصَارِ الْمُهَاجِرِينَ مِنَ الأوَّلُونَ وَالسَّابِقُونَ
الْعَظِيمُ الْفَوْزُ ذَلِكَ أَبَدًا فِيهَا خَالِدِينَ الأنْهَارُ تَحْتَهَا تَجْرِي جَنَّاتٍ لَهُمْ وَأَعَدَّ
Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.(At-Taubah:100)
Dari ayat ini Allah Ta’ala telah menjamin kepada para Sahabat dan orang-orang yang setia mengikuti manhaj mereka dengan nikmat SurgaNya yang tidak ada keburukan didalamnya. Itu karena mereka berada diatas petunjuk dan jalan yang lurus, didalam hadistnya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,”Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian dari kalangan Ahlul kitab telah terpecah menjadi 72 golongan. Dan sesungguhnya umatku ini akan berpecah menjadi 73, 72 didalam Neraka dan 1 didalam Surga.”Para sahabat bertannya,”Siapa dia ya Rasulullah?.”Rasulullah bersabda,”Yaitu Al-Jama’ah”.”
Dan siapakah Al-Jama’ah?? Dijelaskan didalan riwayat yang lain bahwasanya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,”Seluruh mereka didalam Neraka kecuali golongan yang satu.”Para Sahabat bertanya,”Siapa dia ya Rasulullah?.”Rasulullah bersabda,”(yaitu) yang aku dan para sahabatku berada diatasnya.”
Dari hadist ini menunjukan bahwa hanya orang-orang yang mengikuti Rasulullah dan para sahabatnyalah yang dapat menuju Surga dengan selamat, karena Rasulullah telah menjelaskan bahwasanya para sahabat berada dijalan yang lurus bersama Rasulullah. Begitu juga Rasulullah bersabda,”Barangsiapa yang hidup sepeninggalku nannti akan meliah perselisihan yang banyak, maka wajib atas kalian berpegang kepada sunnahku dan sunnah khulafa al-rasyhidin yang berada dijalan yang lurus, berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah dia dengan gigi graham.”
Oleh karena itu, Al Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas menjelaskan tentang hadist ini:
1. Rasulullah menggabungkan sunnahnya dengan sunnah Khulafaur Rasyidin, yaitu pemahaman salaf, dengan sunnah beliau. Ini menunjukkan bahwa islam tidak bisa dipahami kecuali dengan manhaj salaf.
2. Beliau mengatakan,”Gigitlah ia dengan gigi graham.” dan tidak mengatakan, ”Gigitlah keduannya dengan gigi graham.”Dengan demikian jelaslah bahwa sunnah Khulafaur Rasyidhin termasuk sunnah beliau Shalallahu ‘alaihi wasallam.
3. Beliau menjadikan hal itu (manhaj salaf) sebagai solusi dari perselisihan dan kebid’ahan, barangsiapa yang berpegang kepada sunnah Rasululah dan sunnah Khulafaur Rasyidin maka dia termasuk golongan yang selamat kelak dihari kiamat.
Dan mereka juga dijuluki para ulama sebagai As-Sawaad Al-‘Azhom yaitu kebenaran dan pelakunya. Begitu juga Abdullah bin Mas’ud berkata,”Barangsiapa dari kalian yang ingin mengambil teladan, hendaklah mengambil teladan dari sahabat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Karena sesungguhnya mereka adalah umat yang paling baik hatinya, paling dalam ilmunya, paling sedikit bebannya, paling lurus petunjuknya, dan paling baik keadaannya. Suatu kaum yang Allah telah pilih untuk menemaninya NabiNya dan untuk menegakkan agamaNya, maka kenalilah keutamaan mereka serta ikutilah atsar-atsarnya karena mereka berada diatas petunjuk yang lurus.”
Oleh karena itu, wajib bagi kita untuk mengikuti manhaj mereka untuk dapat selamat dari berbagai macam kesesatan sebagaimana dikatakan Imam Al-Barbahary,”Barangsiapa yang tidak mengambil dari mereka maka sungguh dia telah tersesat dan berbuat Bid’ah.”
Lalu bagaimanakah orang-orang yang mengambil manhaj selain manhaj Salafush Shalih??Serta bagaimanakah orang-orang yang mencela dan melakat mereka??Semoga Allah melaknat orang-orang yang melaknat para Sahabat, dan merendahkan orang-orang yang mencela para Sahabat.
Karena sungguh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda,”Janganlah kalian mencaci sahabatku! Demi Dzat yang diriku berada di tanganNya. Sungguh jika seandainya salah seorang dari kalian berinfak sebesar gunung uhud berupa emas, maka belum mencapai infak mereka meski satu mud,tidak pula setengahnya.”
Oleh karena itu wajib bagi kita untuk mencintai, menghormati, dan mengikuti jejak mereka serta memohokan ampunan serta rahmat bagi mereka.
Semoga Allah ta’ala mengampuni serta merahmati mereka serta membangkitkan kita bersama Rasulullah serta Sahabatnya di surgaNya yang tertinggi.Amin..

Kenikmatan surga

SURGA

Surga memiliki banyak kenikmatan. Kenikmatan-kenikmatan tersebut tidak bisa dibandingkan dengan kenikmatan yang ada di dunia.

قُلْ مَتَاعُ الدُّنْيَا قَلِيلٌ وَالآخِرَةُ خَيْرٌ لِمَنِ اتَّقَى وَلا تُظْلَمُونَ فَتِيلا

Artinya: “Katakanlah: ‘Kesenangan di dunia ini hanya sedikit dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa dan kamu tidak akan dianiaya sedikit pun.’!” (QS An-Nisa’ : 77)

Œ Kenikmatan di Surga

Surga adalah tempat yang disediakan Allah 'azza wa jalla bagi orang-orang yang beriman dan beramal shaleh yang luasnya seluas langit dan bumi. Di dalamnya terdapat berbagai kenikmatan yang tidak pernah terlihat oleh mata, terdengar oleh telinga, ataupun terbetik di hati seorangpun. Hal ini sebagaimana dibenarkan oleh firman Allah 'azza wa jalla yang artinya,

فَلا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Artinya: "Seorangpun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam ni'mat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan." (As Sajdah : 17).

Tentang ayat ini Rasulullah shollallohu 'alaihi wa sallam bersabda,

Hadis riwayat Abu Hurairah, ia berkata:
Dari Nabi, beliau bersabda: Allah berfirman: Aku sediakan untuk hamba-hamba-Ku yang saleh sesuatu yang belum pernah dilihat oleh mata dan tidak pernah didengar oleh telinga serta tidak terbesit dalam hati manusia. Bukti kebenaran itu terdapat dalam Alquran: Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyenangkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. (Shahih Muslim No.5050)

Di antara kenikmatan di surga yang Allah dan Rasul-Nya telah perkenalkan pada kita adalah :

Ø Merasakan nikmatnya sungai susu, arak, dan madu, sebagaimana Allah Ta'ala berfirman artinya," (Apakah) perumpamaan (penghuni) surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tidak berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari khamer (arak) yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring." (Muhammad : 15).

Ø Mendapatkan isteri yang masih belia dan berumur sebaya, sebagaimana firman Allah yang artinya, ”Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa mendapat kemenangan, (yaitu) kebun-kebun dan buah anggur, dan gadis-gadis remaja yang sebaya." (An Naba' : 31-33).

Ø Hidup kekal dengan nikmat lahir dan batin, sebagaimana Rasulullah shollallohu 'alaihi wa sallam bersabda yang artinya, "Siapa yang masuk surga selalu merasa nikmat, tidak pernah susah, pakaiannya tidak pernah cacat, dan kepemudaannya tidak pernah sirna." (HR. Muslim).

Ø Diberi umur muda, sebagaimana Nabi shollallohu 'alaihi wa sallam bersabda yang artinya, "Ahli surga, berbadan indah tanpa bulu, matanya indah bercelak, umurnya 30 atau 33 tahun." (Shohihul Jaami').

Ø Memandang wajah Allah yang mulia, sebagaimana diriwayatkan dari Shuhaib, bahwa Nabi shollallohu 'alaihi wa sallam bersabda, "Jika surga telah dimasuki oleh para penghuninya, ada yang menyeru : 'Wahai penduduk surga, sesungguhnya Alloh mempunyai suatu janji untuk kalian yang janji tersebut berada di sisi Allah, di mana Dia ingin menuaikannya.' Mereka berkata : 'Apakah itu? Bukankah Dia telah memberatkan timbangan-timbangan kami, memasukkan kami ke surga, dan menyelamatkan kami dari neraka?' Beliau melanjutkan : 'Maka Allah menyingkapkan hijabnya (tabirnya), sehingga mereka melihat-Nya (wajah Allah). Demi Allah, Allah belum pernah memberikan sesuatu pun yang lebih mereka cintai dan menyejukkan pandangan mereka daripada melihat-Nya." (HR. Muslim)

Allah Ta'ala berfirman,

لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ

Artinya,”Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya.” ( Yunus : 26 )

Para ulama menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan tambahannya pada ayat tersebut adalah melihat wajah Allah Ta’ala. Lihat juga Surat Al-Qiyamah 22-23.

Ø Diturunkannya ke-Ridhoan Allah kepada penghuni surga

Bahwa Nabi saw. bersabda: Sesungguhnya Allah berfirman kepada penghuni surga: Hai penghuni surga! Mereka menjawab: Kami penuhi seruan-Mu wahai Tuhan kami, dan segala kebaikan ada di sisi-Mu. Allah melanjutkan: Apakah kalian sudah merasa puas? Mereka menjawab: Kami telah merasa puas wahai Tuhan kami, karena Engkau telah memberikan kami sesuatu yang tidak Engkau berikan kepada seorang pun dari makhluk-Mu. Allah bertanya lagi: Maukah kalian Aku berikan yang lebih baik lagi dari itu? Mereka menjawab: Wahai Tuhan kami, apa yang lebih baik dari itu? Allah menjawab: Akan Aku limpahkan keridaan-Ku atas kalian sehingga setelah itu Aku tidak akan murka kepada kalian untuk selamanya. (Shahih Muslim No.5057)

Ø Kemah-kemah disurga

Dari Nabi saw., beliau bersabda: Sesungguhnya seorang mukmin mempunyai sebuah kemah di dalam surga yang terbuat dari satu mutiara yang berlubang, panjangnya enam puluh mil, dan orang seorang mukmin juga memiliki keluarga di dalamnya yang akan ia kunjungi padahal sebagian mereka tidak pernah melihat sebagian yang lain. (Shahih Muslim No.5070)

Masih banyak sekali ayat dan hadits lainnya yang menerangkan tentang sifat-sifat surga, kenikmatannya, kesenangannya, kebahagiannya, dan keelokannya. Semoga Allah menjadikan kita sebagai penghuninya.

Surga Bertingkat-tingkat

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya mendirikan shalat dan berpuasa di bulan Ramadhan, maka Allah mewajibkan dirinya untuk memasukkan dia ke dalam surga, baik dia berjihad di jalan Allah atau hanya berdiam diri di tempat di mana dia dilahirkan.” Mereka (para sahabat) berkata, “Ya Rasulullah! Apakah kami boleh memberitahukan kabar gembira ini kepada manusia?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya di surga ada seratus tingkatan. Allah menyediakannya untuk para mujahid di jalan Allah. Jarak antara dua tingkat adalah seperti jarak antara langit dan bumi. Apabila kalian meminta kepada Allah, maka mintalah surga Firdaus. Sesungguhnya dia berada di tengah-tengah surga dan (letaknya) paling tinggi di surga. Saya diperlihatkan bahwa ‘arsy-nya Allah berada di atasnya. Dari ‘arsy itu terpancar sungai-sungai surga.” (HR. Bukhari No: 3247)

Ž Jalan Menuju Surga

Jika ada yang bertanya tentang amal dan jalan menuju ke surga, maka jawabannya telah Allah berikan secara jelas dalam wahyu yang diturunkan kepada Rasul-Nya yang mulia. Di antaranya sebagaimana yang Allah jelaskan dalam surat Al Mu'minuun ayat 1-11. Beberapa sifat-sifat penghuni surga -semoga Allah menjadikan kita sebagai penghuninya- dari ayat tersebut adalah:

· Pertama, beriman kepada Allah dan perkara-perkara yang wajib diimani dengan keimanan yang mewajibkan penerimaan, ketundukan, dan kepatuhan.

· Kedua, khusyu' dalam shalatnya yaitu hatinya hadir dan anggota tubuhnya tenang.

· Ketiga, menjauhkan diri dari perkataan dan perbuatan yang sia-sia (yang tidak mempunyai faedah dan kebaikan).

· Keempat, menunaikan zakat yaitu bagian harta yang wajib dikeluarkan atau mensucikan jiwa mereka (karena salah satu makna zakat adalah bersuci) berupa perkataan dan perbuatan.

· Kelima, menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri dan budaknya.

· Keenam, memelihara amanah yang dipercayakan dan memenuhi janjinya baik kepada Alloh, kepada sesama mukmin, ataupun kepada makhluk lainnya.

· Ketujuh, melaksanakan sholat pada waktunya, sesuai dengan bentuknya yang sempurna, dengan memenuhi syarat, rukun, dan kewajibannya.

Selain ayat di atas, Rasulullah shollallohu 'alaihi wa sallam juga telah menjelaskan tentang jalan menuju surga yaitu dengan menuntut ilmu syar'i. Rasulullah shollallohu 'alaihi wa sallam bersabda yang artinya, "Barangsiapa yang menempuh satu jalan untuk menuntut ilmu, niscaya Allah akan memudahkannya dalam menempuh jalan ke surga." (HR. Muslim).

Namun untuk meraih surga tidaklah mudah karena Rasulullah shollallohu 'alaihi wa sallam pernah bersabda,” Surga dikelilingi oleh hal-hal yang tidak disukai dan neraka dikelilingi oleh syahwat.” (HR. Bukhari)

Semoga Allah memudahkan kita untuk melakukan amalan-amalan tersebut dan menetapkan kita sebagai penghuni surganya. Amin



Sabtu, 05 September 2009

PENAMPILAN SEPERTI KAMI BUKANLAH TERORIS

Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal
[Pengasuh Radio Muslim, Jogjakarta]

Setelah peristiwa pengeboman Mega Kuningan 17 Juli 2009, polisi mulai melancarkan operasi penangkapan terhadap orang-orang yang diduga teroris. Seperti kemarin baru saja kita saksikan penyergapan di Jatiasih dan Temanggung yang dilakukan oleh Detasemen Khusus (Densus) 88 Polri. Dalam penyergapan tersebut diduga bahwa kepolisian telah berhasil menewaskan pelaku teroris nomor satu di negeri ini yaitu Noordin M Top, yang berkewanegaraan Malaysia. Di samping itu, kita lihat di beberapa tempat polisi juga melakukan raziah dengan tujuan untuk mencari orang-orang yang diduga teroris.

Namun bukanlah peristiwa ini yang kami sayangkan. Yang kami risaukan adalah tanggapan masyarakat saat ini mengenai orang-orang yang berpenampilan sama dengan pelaku-pelaku pengeboman. Sejak masa Amrozi dan Ali Imron dulu, sebagian orang memiliki anggapan bahwa orang-orang yang berjenggot dan memakai celana di atas mata kaki adalah orang-orang yang sekelompok dengan Noordin cs. Atau istri-istri mereka yang mengenakan cadar dituduh sebagai istri para teroris.
Oleh karena itu, dalam tulisan yang singkat ini, kami ingin sekali memberikan penjelasan kepada kaum muslimin bahwa tidak setiap orang yang berpenampilan sama itu memiliki kesamaan dalam tingkah laku. Jadi, belum tentu orang yang berpenampilan dengan celana di atas mata kaki atau berjenggot adalah teroris atau temannya teroris atau sekomplotan dengan teroris. Tidak otomatis dari penampilan semata seseorang bisa dituduh teroris.
Semoga setiap muslim yang membaca artikel ini mendapatkan pencerahan dan mendapatkan taufik dari Allah Ta’ala.

Baca selengkapnya...klik..

http://moslemsunnah.wordpress.com/2009/08/09/penampilan-seperti-ini-bukanlah-teroris/